Orang Jepang Yang Sudah Dewasa pun Mengurung Diri di Rumah

Diperkirakan ada lebih dari 1 juta orang di seluruh Jepang yang setelah dewasa sebisa mungkin tidak bersosialisasi di lingkungan dan mengurung diri (hikikomori) di rumah. Mereka ini adalah orang-orang yang selama 6 bulan berturut-turut hampir tidak pernah keluar kamar. bahkan jika keluar kamar, tidak akan keluar rumah, hanya keluar untuk pergi ke minimarket terdekat atau sekadar keluar untuk keperluan hobi mereka.

Berdasarkan data pemerintah, pada tahun 2019 jumlah orang-orang yang mengurung diri (hikikomori) diketahui sebagai berikut,

  • Anak muda berusia 15-34 tahun sekitar 541,000 orang.
  • Paruh baya berusia 40-64 tahun sekitar 613,000 orang.

Sebagai contoh, ada orang jepang yang sejak usia 20 tahun mengurung diri selama 30 tahun hingga menginjak usia 50 tahun. Banyak orang indonesia mungkin sulit membayangkannya, tetapi hal ini benar-benar terjadi di Jepang.

Penyebab hikikomori ini tentu sangat beragam, tidak ada hal yang bisa dikatakan sebagai penyebab utama. Dalam kasus-kasus terburuk, penyebab terbanyak adalah manusia itu sendiri.

Menjadi hikikomori karena mengalami penindasan (bullying)

Bullying masih terjadi di mana saja. Di sekolah dasar, sekolah menengah, bahkan saat mulai bekerja pun masih ada penindasan di tempat kerja. Di indonesia pun saya pernah mendengar masalah tentang bullying, jadi saya pikir anda bisa membayangkannya.

Ada orang yang bertahan walau sudah ditindas berkali-kali, tetapi kebanyakan dari mereka terluka perasaannya dan tidak dapat menyembuhkannya sampai tidak mau keluar rumah (menarik diri dari lingkungan, hikikomori).

Menjadi hikikomori karena pengaruh keluarga

Di dunia ini tidak hanya orang tua yang sepenuh kasih mencintai anak mereka, tetapi ada juga orang tua yang tidak baik. Secara pribadi, saya sendiri tidak bisa memahami perasaan setiap orang tua, tetapi ada orang tua yang tidak bisa menunjukan perasaan sayang yang sepenuh hati kepada anak mereka. Mereka melakukan penyiksaan, memukul, bahkan tidak memberi makan dan sebagainya. Kesalahan orang tua seperti inilah yang membuat seseorang menjadi hikikomori sejak kecil.

Mengurung diri karena gagal ujian

Sama halnya dengan di indonesia, di jepang pun ada sekolah negeri dan swasta. Sekolah yang dikelola oleh negara (publik) dan yang dikelola oleh masyarakat (privat/swasta) tentunya berbeda, tetapi keduanya sama-sama menerapkan ujian masuk.

Apabila masuk ke sekolah yang berlevel tinggi maka pendidikan yang didapatkan pun akan lebih baik. Oleh karena itu, siswa belajar sungguh-sungguh untuk lulus ujian masuk. Jika berhasil saat ujian tentu akan masuk ke sekolah yang diinginkan, tetapi jika tidak lulus mau tidak mau harus masuk ke sekolah yang tidak diinginkan.

Ada orang yang menjadi hikikomori ketika mereka gagal dalam ujian. Walaupun ujian masuk bukanlah segalanya dalam hidup, tetapi mereka menganggap hidup mereka telah selesai karena hal ini, sehingga memutuskan untuk mengurung diri di kamar.

Mengurung diri karena merasa gagal dalam mencari pekerjaan

Di jepang ada dua jenis sistem perekrutan yaitu perekrutan bagi lulusan baru dan perekrutan di pertengahan. Untuk jenis yang kedua sepertinya tidak perlu dijelaskan, sistem ini bisa disamakan dengan perekrutan bagi mereka yang ingin mengganti pekerjaan. Untuk perekrutan lulusan baru, biasanya bersamaan dengan tahun ke-4 sebagai mahasiswa, semua pelajar mulai mengikuti kegiatan perekrutan.

Mereka mengirimkan CV ke perusahaan-perusahaan, mengikuti ujian tertulis, menjalani berbagai macam wawancara dan memutuskan tawaran pekerjaan. Urutannya hampir sama dengan ujian masuk, apabila berhasil maka akan bisa diterima di perusahaan yang bagus, tetapi jika gagal mau tidak mau harus bekerja di perusahaan yang reputasinya tidak baik.

Secara pribadi, saya pikir lebih baik bekerja di perusahaan tersebut, walaupun tidak memuaskan beberapa tahun kemudian kita bisa pindah bekerja. Tetapi, di dunia ini ada orang-orang yang tidak bisa bertahan dan memilih mengurung diri di rumah.

Mengurung diri karena pekerjaan tidak berjalan dengan baik

Bekerja tentunya berbeda dengan belajar ujian, tidak ada aturan yang mengatakan jika anda belajar sebanyak ini maka anda akan berhasil. Kita harus bisa bergerak maju dengan tugas kita sendiri dan harus mencapai hasil yang ditargetkan tim sambil mengendalikan situasi dan hubungan sosial yang kompleks. Apabila semua berjalan dengan baik, pendapatan akan meningkat dan suatu saat posisi pun akan naik menjadi manajer.

Namun, walaupun semua orang bisa berhasil dan mendapatkan kenaikan gaji, tidak semuanya bisa menjadi manajer. Menariknya adalah, ada orang yang walaupun lemah dalam hal belajar, mereka unggul dalam hal berbisnis dan bisa menghasilkan pekerjaan dengan luar biasa. Keberhasilan dalam ujian tidak akan mempengaruhi keberhasilan dalam bekerja.

Hanya sebagian kecil orang yang bisa sangat sukses dalam pekerjaan dan sebagian besar menjalani kehidupan pekerjaan yang biasa-biasa saja. Tetapi, beberapa orang tidak bisa bertahan, lari dari kenyataan dan mengurung diri di rumah.

Kesimpulan

Bisa dilihat bahwa penyebab hikikomori itu bermacam-macam, yang paling banyak adalah pelajar hikikomori yang berusia 20-30 tahun. Seperti yang disebutkan di atas, mereka mengurung diri karena penindasan dan gagal dalam ujian masuk sekolah.

Akan tetapi, di tahun 2020 ini, hikikomori yang berusia paruh baya semakin banyak. Seperti yang disebutkan di awal hikikomori paruh baya yang berusia 40-64 tahun ada sekitar 613,000 orang melebihi jumlah anak muda yang mengurung diri.

Tidak ada hal yang bisa menjadi solusi untuk hikikomori, mereka harus kembali ke masyarakat dan berbicara dengan penuh kejujuran. Akan tetapi, hal tersebut tentu sangatlah sulit, dan sejauh ini tidak ada solusi yang efektif.

Related

コメント

この記事へのコメントはありません。