Mengapa Orang Jepang Tidak Menikah

Orang jepang zaman dulu berpikiran bahwa menikah adalah hal yang sewajarnya dilakukan. Pada saat itu rata-rata usia menikah adalah umur 25-28 tahun.

Apabila seseorang belum menikah ketika sudah melebihi umur 30 tahun, orang-orang di sekitarnya akan khawatir dan rumor-rumor tentang alasan dia belum menikah akan bermunculan. Akan tetapi, itu adalah cerita sekitar 20 atau 30 tahun yang lalu.

Berdasarkan data pada tahun 2015, mereka yang berusia 30-34 tahun, kira-kira 1 dari 2 orang pria (47.1%) dan 1 dari 3 orang wanita (34.6%) belum menikah. Sedangkan mereka yang berusia 35-39 tahun, 1 dari 3 pria (34.6%) dan 1 dari 4 orang wanita (23.9%) belum menikah.

Selanjutnya saya akan menjelaskan mengapa orang jepang tidak menikah.

Tidak percaya diri bisa menghidupi istri dan anak karena pendapatan tahunan yang rendah

Masalah terbesar adalah soal uang. Hingga tahun 1980-an kondisi perekonomian jepang sangatlah baik. Tahun ini disebut “Era Bubble (Gelembung)”, banyak orang jepang mendapatkan keuntungan dari perekonomian yang baik ini.

Setelah era tersebut berakhir sekitar tahun 1991, sejak saat itu hingga sekarang perekonomian jepang terus menurun. Rata-rata pendapatan tahunan jepang sekitar 4,410,000 yen (sekitar 550 juta), tetapi kenyataannya, pendapatan tahunan yang lebih banyak adalah di bawah 3,000,000 yen (sekitar 374 juta). Hal ini berlaku hanya untuk 40% lebih dari populasi pekerja.

Ketika mendengar pendapatan per-tahun sekitar 374 juta, tentu saja akan terkesan lebih besar jika dibandingkan dengan pendapatan biasa orang indonesia (karena saya juga tinggal di indonesia). Tetapi, apabila tinggal di jepang, menikah, membiayai pendidikan anak-anak dan hidup dengan penuh kegembiraan, sama sekali tidak akan cukup. Pendapatan yang rendah seperti ini menjadi salah satu alasan orang-orang untuk tidak menikah.

Orang yang berpikiran hidup sendiri lebih nyaman semakin bertambah

Seperti yang disebutkan di atas, banyak orang yang berpikiran tidak bisa atau tidak akan menikah karena pendapatan yang rendah. Sering kali muncul pertanyaan “Apakah mereka yang pendapatannya lebih tinggi memilih menikah?”. Tentu saja dibandingkan yang pendapatannya rendah mereka yang berpendapatan tinggi, persentase pernikahannya pun lebih tinggi. Walaupun persentase untuk menikah lebih tinggi, ada beberapa orang yang memutuskan untuk tidak menikah.

Hal ini disebabkan, banyak yang menceritakan kekurangan dari pernikahan di internet dan sebagainya.

Pernikahan adalah bersatunya dua orang untuk memulai hidup bersama, tentu saja ada hal-hal yang baik, tetapi hal yang buruk pun ada (yang harus kita hadapi dengan kesabaran). Walaupun keduanya saling mencintai, tetap saja akan ada hal yang membuat stres bertambah.

Hal tersebut adalah sesuatu yang harus dihadapi oleh setiap pasangan, tetapi seringkali ada yang mengeluh di internet atau sosial media lainnya. “Jika saya harus bersabar seperti ini, lebih nyaman jika saya hidup sendiri. Lebih baik hanya berpacaran saja.” Akhirnya orang-orang dengan pemikiran seperti ini pun bermunculan.

Orang-orang di sekitar yang tidak menikah pun meningkat

Karena dahulu menikah adalah sesuatu hal yang sewajarnya dilakukan, ada masa ketika usia sudah melewati 30 tahun dan belum menikah, mereka akan merasa malu. Hal tersebutlah yang menjadi alasan banyak orang jepang cepat menikah pada masa itu.

Akan tetapi, seperti yang dijelaskan di atas akhir-akhir ini orang-orang yang tidak menikah semakin meningkat. Oleh karena itu, karena orang-orang di sekitar mereka belum menikah, mereka pun tidak mempermasalahkan soal pernikahan.

Apabila orang-orang tidak mempermasalahkan hal ini, keinginan untuk menikah pun tidak akan terpikirkan. Ini juga menjadi salah satu alasan kenapa persentase orang-orang jepang yang belum menikah meningkat.

Kesimpulan

Bisa dikatakan alasan utama orang jepang tidak menikah adalah keuangan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa setiap perusahaan menyediakan berbagai layanan untuk dinikmati sendiri. Seperti karaoke, yakiniku, bowling dan sebagainya.

Sebagai tambahan, ketika tidak memiliki uang, jika menikah, uang untuk kepentingan hobi sendiri pun akan habis. Jika seperti itu, lebih baik menikmati kehidupan sendiri dan tidak menikah.

Keadaan tersebut mungkin bukan hanya di Jepang saja, di Korea pun sama seperti itu. Sebagai pribadi yang sudah menikah dan menikmati hari-hari yang menyenangkan, tentu ingin merekomendasikan untuk menikah, tetapi melihat jepang saat ini, hal tersebut akan sedikit menyusahkan.

コメント

この記事へのコメントはありません。