Perbedaan Pandangan Mengenai Waktu Antara Orang Jepang dan Orang Indonesia

Orang jepang sering disebut sebagai “orang yang sangat menuntut ketepatan waktu”. Saya menganggap hal tersebut adalah hal yang biasa karena selama ini saya tinggal di Jepang. Oleh karena itu, saya tidak terlalu tahu apakah saya ketat terhadap waktu atau tidak.

Akan tetapi, setelah saya pindah ke negara selain jepang, saya memahami perbedaan pandangan tentang waktu. Indonesia sangat longgar untuk urusan waktu, hal ini karena adanya kebiasaan “jam karet”. Sebagai contoh, jika kita janji akan bertemu dengan seseorang pada pukul 10, biasanya dia datang terlambat 1 jam lebih dari waktu yang dijanjikan.

Setelah tinggal di kedua negara ini, saya jadi memahami perbedaan pandangan tentang waktu. Kali ini saya ingin sedikit menggali lebih dalam mengenai perbedaan waktu dan akan menjelaskan bagaimana pemikiran orang jepang tentang waktu.

Pandangan orang jepang tentang waktu

Orang yang terlambat memenuhi deadline adalah orang yang tidak bisa bekerja

Orang jepang sangat ketat terhadap urusan deadline. Jika sudah berjanji akan menyelesaikan tugas sampai hari tertentu, pada dasarnya harus memenuhi janji tersebut. Tentu saja ada waktu di mana deadline tidak bisa terpenuhi karena sakit atau kecelakaan. Akan tetapi, di luar kasus seperti itu, kami berpikir memenuhi deadline adalah suatu keharusan.

Dikarenakan memenuhi deadline adalah suatu hal yang biasa, mereka yang tidak bisa memenuhinya dianggap orang yang tidak bisa bekerja. Oleh karena itu, mereka berusaha keras menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Untuk menghindari jadwal yang tidak diinginkan, penting untuk menentukan waktu deadline yang realistis ketika pertama kali menentukan waktu deadline.

Ketika janji bertemu, satu menit terlambat pun tidak termaafkan

Di Jepang tidak bisa beralasan terlambat, karena mobil, kereta dan bus beroperasi di mana-mana, tidak seperti di Jakarta dengan kemacetan lalu lintasnya. Seperti yang anda ketahui, transportasi jepang tiba dan datang tepat waktu. Orang-orang asing pun memposting beberapa hal menarik tentang ini di YouTube, jadi silahkan coba dilihat.

Berdasarkan hal tersebut, sudah sepatutnya ketika janji bertemu bisa menyesuaikan dan datang sesuai waktu yang ditentukan. Oleh karena itu, jika terlambat 5 atau 10 menit, hal yang wajar adalah untuk memberitahu pihak lain sebelumnya. Di Indonesia, karena terlambat 5-10 menit sudah menjadi kebiasaan, saya pikir mereka akan terkejut dengan perbedaan ini saat datang ke Jepang.

Tidak berlaku terhadap junior

Ini hal yang sedikit menyimpang. Jika di atas disebutkan “Orang yang terlambat memenuhi deadline adalah orang yang tidak bisa bekerja” dan “Ketika janji bertemu, satu menit terlambat pun tidak termaafkan”, nilai-nilai ini dilakukan jika berurusan dengan atasan dan kolega, tetapi menjadi lebih longgar kepada para junior. Ini adalah hal yang tidak baik dari jepang.

Oleh karena itu, walaupun disebutkan bahwa “Orang jepang sangat menuntut ketepatan waktu”, apabila orang yang bersangkutan adalah junior atau posisinya di bawah mereka, mereka sering kali tidak tepat waktu dan sering terlambat. namun, tidak semuanya seperti itu, ada beberapa orang yang selalu tepat waktu meskipun yang ditemuinya adalah junior. Saya pikir, orang seperti itulah yang benar-benar bisa bekerja.

Anggapan “Waktu adalah uang”

Saya pikir orang jepang ketat terhadap waktu karena mereka memiliki anggapan bahwa “Waktu adalah uang”. Artinya waktu sama halnya dengan uang, yaitu hal yang sangat penting. Oleh karena itu tidak boleh membuang waktu dengan percuma, sebisa mungkin digunakan dengan penuh manfaat. Ini bukanlah pemikiran khas orang jepang, tetapi merupakan pemikiran salah satu politikus ternama Amerika, Benjamin Franklin yaitu “Time is money”.

Artinya, karena waktu merupakan hal sama pentingnya dengan uang, kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu orang lain. Apabila kita terlambat, secara langsung kita telah menyia-nyiakan waktu orang tersebut (karena pihak lain harus menunggu). Selain itu, jika kita tidak memenuhi deadline, pihak lain harus mengubah jadwal yang sudah direncanakan. Oleh karena itu, terlambat ataupun tidak memenuhi deadline adalah hal yang tidak baik di Jepang.

Kesimpulan

Jika dilihat cara pandang orang jepang seperti di atas, tentu saja sangat tidak sesuai dengan pengertian waktu di Indonesia. Anehnya, manusia adalah makhluk yang mudah terpengaruhi. Setelah tinggal lama di Indonesia, saya pun terbiasa dengan “budaya jam karet” indonesia. Ketika sudah terbiasa, saat berurusan dengan orang jepang pun secara bertahap menjadi lebih longgar dan berkata “Sedikit terlambat tidak apa-apa ya?” atau “Deadlinenya sedikit terlambat, tidak apa-apa?”.

Begitupun sebaliknya, orang indonesia pun akan terpengaruhi saat datang bekerja ke jepang. Walaupun sebelumnya sangat longgar terhadap waktu, saya pikir mereka akan tiba-tiba menjadi ketat dan menghargai waktu. Hal ini bisa diartikan, pandangan terhadap waktu tidak ditentukan oleh “Nasionalitas” apakah dia orang jepang atau orang indonesia. Pandangan terhadap waktu ditentukan oleh “pengaruh lingkungan”, baik di negara indonesia maupun di negara jepang. Dan hal itu pun saya pikir akan selalu berubah.

コメント

この記事へのコメントはありません。