Alasan Karyawan Jepang Tidak Mengambil Jatah Cuti Liburan

Cuti liburan adalah hak setiap pekerja, oleh karena itu ketika mereka berkata “Saya ingin memakai cuti liburan”, perusahan tidak bisa menolaknya. Hal ini merupakan hal yang wajar di Indonesia. Akan tetapi, hal ini tidak akan berlaku ketika bekerja di Jepang.

Jika dikatakan tidak berlaku sekalipun, alasannya akan berbeda-beda, bisa jadi disebabkan oleh masing-masing individu, perusahaan atau atasan. Apapun alasannya, saya pikir sudah menjadi ciri khas orang jepang. Hal ini saya rasakan terutama setelah saya pindah ke Indonesia dan sering berbicara dengan orang indonesia.

Alasan secara pribadi

Tidak bisa mengambil cuti karena mempertimbangkan anggota tim yang lain

Biasanya seseorang tidak mengambil cuti karena khawatir jika mereka mengambil libur, maka pekerjaan anggota tim yang lain akan bertambah. Umumnya sebuah tim bekerja sama untuk melengkapi satu sama lain (itu adalah teamwork). Namun, sebagian orang jepang biasanya terlalu memikirkan anggota tim di sekitarnya. Karena pemikiran yang seperti inilah mereka akhirnya memutuskan tidak bisa mengambil cuti liburan.

Tidak bisa mengambil cuti karena pekerjaan belum selesai

Sebelum mengkhawatirkan hal yang dijelaskan di atas, dikarenakan sejak awal pekerjaan individu pun sangat banyak maka tidak ada waktu untuk mengambil cuti liburan. Ketika saya bekerja di Jepang, seringkali saya bekerja sepanjang hari dari pukul 8 pagi hingga 11-12 malam. Jika bekerja seperti itu, tentu saja sejak awal tidak terpikirkan untuk bisa mengambil cuti liburan.

Tidak akan mengambil cuti karena suka bekerja (workaholic)

Sebagian orang jepang sangatlah suka bekerja. Bahkan ada orang yang berkata “Hobi saya adalah bekerja!”. Orang-orang seperti itu tidak berpikiran “Tidak bisa mengambil cuti” tetapi “Tidak akan mengambil cuti”

Walaupun mereka memiliki teman diluar kantor, tipe orang seperti ini lebih memilih berkontribusi pada perusahaan dibanding kepada keluarga atau kehidupan pribadinya. Mereka ingin memberikan pengaruh yang besar pada lingkungan sekitarnya, dan sebelum hal itu terwujud mereka tidak tertarik dengan cuti liburan.

Perusahaan dan atasan sebagai alasan

Cuti tidak akan diberikan jika kinerja perusahaan buruk

Di jepang sekalipun, perusahaan terdaftar seperti Toyota dan Glico patuh terhadap pemeriksaan yang ketat dan mematuhi apa yang tertulis dalam hukum ketenagakerjaan. Mereka akan benar-benar mematuhi hak para pekerja seperti adanya cuti liburan, cuti kehamilan dan sebagainya.

Namun, perusahaan kecil yang pekerjanya tidak lebih dari 20 orang biasanya tidak mematuhi peraturan ini (tentu saja tidak semua perusahaan kecil melakukan hal ini). Hanya saja, sebagian perusahaan yang buruk tersebut biasanya menyatakan “Karena kinerja perusahaan yang buruk, pekerja tidak bisa seenaknya mengambil cuti”, sehingga mereka tidak akan memberikan jatah cuti liburan untuk para pekerja.

Menurut pendapat saya, para pekerja tidak akan bertahan lama jika perusahaan tidak memenuhi hak para pekerjanya. Sebagai hasilnya, secara bertahap karyawan mengundurkan diri dan pada akhirnya yang kesulitan adalah perusahaan itu sendiri. Pada zaman sekarang, dengan adanya sosial media seperti Facebook, Twitter dan lain sebagainya, setiap informasi tidak akan bisa disembunyikan. Bahkan di jepang pun, perusahaan buruk seperti ini akan mendapat kecaman di internet dengan mudah.

Tekanan dari atasan sehingga cuti tidak diberikan (Power Harassment)

Seringkali jika atasan secara pribadi tidak menyukai seorang bawahan, dia tidak akan memberikan cuti kepada bawahan tersebut. Hal ini disebut sebagai Power Harassment (dalam bahasa jepang disingkat PAWAHARA). Jika menggunakan bahasa lama disebut pengintimidasian (bullying). Bagaimanapun juga, itu adalah bentuk kecurangan, secara pribadi saya pun merasa itu adalah hal yang tidak menyenangkan.

Ada beberapa macam jenis atasan yang membenci bawahan. Sebagai contoh, manajer divisi penjualan tidak menyukai bawahannya karena kinerja penjualan bawahannya tersebut buruk. Atau, mereka tidak menyukai bawahannya karena karakter mereka tidak cocok. Hal lainnya, ada juga atasan yang apabila dia menyukai bawahan tetapi ditolak setelah menyatakan perasaannya, mereka akan membenci bawahan tersebut dan tidak memberikan jatah cuti liburan. (Akan tetapi, ini kasus yang jarang)

Bagaimanapun, saya pikir di indonesia juga ada orang yang tidak menyukai satu sama lain. Tetapi, apabila hal itu sampai di bawa ke tempat kerja, ditambah lagi sampai tidak memberikan jatah cuti liburan, ini menjadikan salah satu hal yang tidak baik dari jepang.

Kesimpulan

Seperti yang sudah disampaikan di atas, ada berbagai macam alasan yang menyebabkan cuti liburan tidak diambil di Jepang. Pada dasarnya karena cuti liburan adalah hak setiap pekerja, anda tentu saja berhak mendapatkannya ketika anda meminta izin. Saya sudah pindah bekerja ke Indonesia selama bertahun-tahun, dan ketika mengajukan izin cuti liburan tidak pernah ditolak. Hal ini tentu saja bukan saya saja, karyawan indonesia lainnya pun seperti biasa mendapatkan hak cuti mereka.

Akan tetapi, di jepang pun keadaan ini mulai berubah terutama di kalangan anak muda berumur 20-30an. Anak muda sekarang memiliki pandangan bahwa “Perusahaan bukanlah segalanya dalam hidup”, oleh karena itu mereka menggunakan haknya untuk mendapatkan cuti liburan. Ketika generasi ini menginjak usia 50-60an, saya pikir suasana tempat kerja di jepang pun akan sangat berubah.

Related

コメント

この記事へのコメントはありません。