Alasan Mengapa Anak Muda Jepang Tidak Ingin Menjadi Manajer

Ketika kita bekerja di sebuah perusahaan lalu terpilih menjadi tim leader atau manajer, tentu saja menyenangkan. Saya masih ingat saat pertama kali mendapatkan promosi, saya sangat senang sekali. Saat mendapatkan promosi, kita akan mendapatkan kenaikan gaji, memiliki tim sendiri, dan akan mendapatkan pengalaman mengelola anggota tim sendiri. Hingga sekitar tahun 1990, banyak pekerja yang berkompetisi di dalam perusahaan, mereka berusaha keras untuk mendapatkan promosi.

Namun belakangan ini, keinginan anak muda yang mau menjadi manajer jumlahnya berkurang secara signifikan. Dulu mungkin tidak terpikirkan, akan tetapi hal ini terjadi karena semakin banyak anak muda yang ingin lebih fokus terhadap kehidupan pribadi mereka dibandingkan menjadi manajer dan bekerja keras untuk perusahaan. Tentunya ada berbagai macam alasan, oleh karena itu saya bermaksud menjelaskannya satu persatu.

Tidak ingin bekerja karena gaji tidak naik

Berdasarkan penelitian Kantor Nasional Perpajakan mengenai pendapatan pribadi pada tahun 2018, rata-rata gaji bulanan orang jepang adalah 368,000 yen per bulannya (sekitar 45 juta/bulan). Sekilas terlihat sangat besar, tetapi nyatanya dalam sepuluh tahun terakhir ini, rata-rata pendapatan orang jepang tidak meningkat. Jepang masuk ke dalam tiga terbesar negara dengan ekonomi terkuat, tetapi ekonominya tidak mengalami kemajuan ataupun kemunduran dalam jangka panjang.

Setelah tinggal di indonesia dan membaca berita, setiap tahunnya pendapatan terendah mengalami peningkatan rata-rata 7% hingga 8%. Berdasarkan ranking GDP 30 tahun mendatang yang dikeluarkan perusahaan konsultan, indonesia diprediksi akan melampaui jepang dari segi perekonomian. Sebagai orang yang pernah tinggal di kedua negara tersebut, entah bagaimana saya bisa merasakan nyatanya hal tersebut.

Seperti yang disebutkan di atas, rata-rata pendapatan di jepang tidak mengalami peningkatan selama 10 tahun terakhir karena perekonomian yang stagnan. Dikarenakan rata-rata pendapatan tidak berubah, anak muda yang berpikiran “Bekerja keras pun akan tetap sama” semakin banyak.

Tidak bisa menghadapi stres/tekanan sebagai manajer

Orang Jepang cenderung bekerja terlalu keras. Banyak dari mereka yang bekerja sepanjang hari. Namun, mereka yang bekerja keras yakin bahwa dengan bekerja keras mereka akan mendapatkan promosi dan kenaikan gaji.

Ngomong-ngomong, saya pun saat di jepang bekerja sangat keras. Setiap hari pukul 8 pagi pergi ke kantor dan bekerja sampai pukul 11 malam lebih. Seingat saya hari sabtu dan minggu pun hampir tidak ada istirahat dan saya bekerja dengan baik tanpa ada masalah.
Akan tetapi, seperti yang sudah dijelaskan di atas, selama sepuluh tahun terakhir, rata-rata pendapatan jepang tidak berubah. Mungkin dikarenakan gaji yang sama sekali tidak naik, kelebihan menjadi seorang manajer pun berkurang. Bekerja di antara atasan dan bawahan anda akan menjadi tekanan besar. Walaupun mendapatkan promosi, apabila hanya meningkatkan stres siapapun tidak pernah berpikir ingin menjadi manajer.

Karena bekerja sambilan, tidak ada waktu untuk pekerjaan utama

Dikarenakan bekerja sekeras apa pun tidak akan meningkatkan pendapatan, banyak anak muda yang memiliki pekerjaan sampingan. Pekerjaan sampingan yaitu, memiliki pendapatan lain diluar pekerjaan utama yang bertujuan agar mendapatkan uang lebih banyak.

Jika pendapatan pekerjaan utama tidak meningkat seberapapun kerasnya bekerja, dengan memiliki pekerjaan sampingan, jika dijumlahkan maka pendapatan akan bertambah. Kalau menjadi manajer, akan banyak tugas dan bekerja dengan tekanan. Lebih baik waktu tersebut digunakan untuk bekerja sampingan sebagai investasi yang jauh lebih baik. Inilah salah satu alasan mengapa anak muda tidak ingin menjadi manajer.

Bahkan pemerintah jepang pun mendukung gerakan seluruh masyarakat untuk mencabut larangan pekerjaan sampingan agar pekerjaan sampingan diperbolehkan. Selama pendapatan tidak meningkat bagi seluruh masyarakat jepang, karyawan akan bekerja sambilan dengan tujuan meningkatkan pendapatan.

Kesimpulan

Jepang pernah menjadi negara dengan ekonomi terkuat di dunia, tetapi tidak bisa dibayangkan untuk saat ini. Orang-orang lebih banyak yang berpikiran negatif tentang masa depan, berita ekonomi pun dipenuhi dengan topik yang suram.

Masa depan perekonomian ada di tangan anak muda, tetapi mereka tidak memiliki hasrat untuk bekerja, hal ini sangatlah menyedihkan.

Sebaliknya, jika melihat anak muda indonesia, dibandingkan dengan jepang mereka lebih optimis dan positif melihat ke depan.

Related

コメント

この記事へのコメントはありません。